|
Ronal, seorang penyanyi pop terkenal sering diundang menyanyi di beberapa
kota besar di Indonesia. Berikut ini jumlah penghasilan yang diterima
selama tahun 2005 :
| Bulan |
Jumlah Penghasilan |
Penyelenggara |
| Januari |
Rp 10.000.000,- |
PT. Media
Infotainment |
| Maret |
Rp 35.000.000,- |
PT. Indah
Karya |
| Juni |
Rp 80.000.000,- |
PT. Megah
Jaya |
| September |
Rp 50.000.000,- |
PT. Indomedia |
| Oktober |
Rp 40.000.000,- |
PT. Karya
Asia |
| Desember |
Rp 85.000.000,- |
PT. Mulia
Sejati |
Berikut ini adalah identitas yang tercantum di Kartu NPWP
Ronal:
| Nama |
: |
RONAL |
| NPWP |
: |
06.123.456.1-029.000 |
| Alamat |
: |
Jl. Dahlia No. 5 Petojo |
| |
|
Gambir Jakarta Pusat 10130 |
Anggota keluarga yang menjadi tanggungan Ronal adalah:
| Nama |
Tanggal Lahir |
Status |
Pekerjaan |
| Fani |
20 Desember 1972 |
Istri |
Ibu Rumah Tangga |
| Kania |
16 Juli 1998 |
Anak Kandung |
Pelajar |
| Riana |
16 April 2003 |
Anak Kandung |
play group |
Selama tahun 2005, Ronal membayar angsuran PPh Pasal 25 sebesar Rp.
30.000.000,- Berdasarkan kasus di atas, bagaimana
perlakuan PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima Ronal dan bagaimana
pengisiannya di Formulir SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi
untuk tahun pajak 2005 ?
Penjelasan:
Dasar Hukum: Dalam Keputusan Dirjen Pajak
Nomor KEP-545/PJ./2000
tanggal 29 Desember 2000 tentang “Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26
Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi” dijelaskan
sebagai berikut : Pasal 1 angka 9
Penerima Honorarium adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh
imbalan sehubungan dengan jasa, jabatan, atau kegiatan yang dilakukannya.
Pasal 2 ayat (1) huruf h
Pemotong Pajak PPh Pasal 21 dan atau PPh Pasal 26, yang selanjutnya
disingkat Pemotong Pajak adalah penyelenggara kegiatan (termasuk badan
pemerintah, organisasi termasuk organisasi internasional, perkumpulan,
orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan)
yang membayar honorarium, hadiah atau penghargaan dalam bentuk apapun
kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu
kegiatan. Pasal 5 ayat (1) huruf e
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah honorarium, uang saku,
hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, komisi,
bea siswa, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan,
jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dalam negeri, terdiri
dari :
1. tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (7);
2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,
bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, crew film, foto model,
peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan
seniman lainnya; 3.
olahragawan;
4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
5. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer
dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi
dan sosial;
7. agen iklan;
8. pengawas, pengelola proyek, anggota dan pemberi jasa kepada suatu
kepanitiaan, peserta sidang atau rapat, dan tenaga lepas lainnya dalam
segala bidang kegiatan;
9. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan;
10. peserta perlombaan;
11. petugas penjaja barang dagangan;
12. petugas dinas luar asuransi;
13. peserta pendidikan, pelatihan, dan pemagangan;
14. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling
dan kegiatan sejenis lainnya.
Pasal 11 huruf a Tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 diterapkan atas
penghasilan bruto berupa honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan
dengan nama dan dalam bentuk apapun, komisi, beasiswa, dan pembayaran
lain dengan nama apapun sebagai imbalan atas jasa atau kegiatan yang
jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan
untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan, termasuk yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 ayat (1) huruf e angka 2 sampai dengan angka 12.
Pasal 21 (1)
Pemotong Pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetorkan PPh Pasal
21 dan Pasal 26 yang terutang untuk setiap bulan takwim.
(2)
Penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak
(SSP) ke Kantor Pos atau Bank Badan Usaha Milik Negara atau Bank Badan
Usaha Milik Daerah, atau bank-bank lain yang ditunjuk oleh Direktur
Jenderal Anggaran, selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim berikutnya.
(3)
Pemotong Pajak wajib melaporkan penyetoran tersebut dalam ayat (2)
sekalipun nihil dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa
ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat, selambat-lambatnya
pada tanggal 20 bulan takwim sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2).
(4)
Apabila dalam satu bulan takwim terjadi kelebihan penyetoran PPh
Pasal 21 atau PPh Pasal 26, maka kelebihan tersebut dapat diperhitungkan
dengan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 26 yang terutang pada bulan berikutnya
dalam tahun takwim yang bersangkutan.
(5)
Pemotong Pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 atau
PPh Pasal 26 baik diminta maupun tidak pada saat dilakukannya pemotongan
pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap, penerima
uang tebusan pensiun, penerima Jaminan Hari Tua, penerima uang pesangon,
dan penerima dana pensiun.
Berdasarkan peraturan di atas
maka perhitungan PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja adalah
sebagai berikut : Januari
5%
x
Rp 10.000.000,- Rp 500.000,-
Maret
5%
x Rp 25.000.000,- Rp 1.250.000,-
10%
x Rp 10.000.000,- Rp 1.000.000,- Rp 2.250.000,-
Juni
5%
x Rp 25.000.000,- Rp 1.250.000,-
10%
x Rp 25.000.000,- Rp 2.500.000,-
15%
x Rp 30.000.000,- Rp 4.500.000,-
Rp 8.250.000,-
September
5%
x Rp 25.000.000,- Rp 1.250.000,-
10%
x Rp 25.000.000,- Rp 2.500.000,-
Rp 3.750.000,-
Oktober
5%
x Rp 25.000.000,- Rp 1.250.000,-
10%
x Rp 15.000.000,- Rp 1.500.000,-
Rp 2.750.000,-
Desember
5%
x Rp 25.000.000,- Rp 1.250.000,-
10%
x Rp 25.000.000,- Rp 2.500.000,-
15%
x Rp 35.000.000,- Rp 5.250.000,-
Rp 9.000.000,-
Jumlah PPh Pasal 21 yang telah dipotong Rp 26.500.000,-
Pihak penyelenggara wajib memberikan Bukti Pemotongan
PPh Pasal 21 kepada Ronal atas pembayaran honorarium.
| Perhitungan PPh Terutang dan PPh Kurang Bayar: |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Penghasilan Bruto selama tahun 2005 |
|
|
300,000,000 |
| Pengurang Penghasilan Bruto |
|
|
|
0 |
| Penghasilan Neto |
|
|
|
|
|
300,000,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Dikurangi: PTKP (K/2) |
|
|
|
|
|
|
|
|
- |
Wajib Pajak |
|
|
|
|
12,000,000 |
|
|
|
- |
Tambahan WP yang kawin |
|
1,200,000 |
|
|
|
- |
Tanggungan (2 orang) |
|
2,400,000 |
|
|
|
Total PTKP |
|
|
|
|
|
15,600,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Penghasilan Kena Pajak |
|
|
|
|
|
284,400,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| PPh terutang: |
|
|
|
|
|
|
|
5% |
x |
25,000,000 |
|
= |
|
|
1,250,000 |
|
|
10% |
x |
25,000,000 |
|
= |
|
|
2,500,000 |
|
|
15% |
x |
50,000,000 |
|
= |
|
|
7,500,000 |
|
|
25% |
x |
100,000,000 |
|
= |
|
|
25,000,000 |
|
|
35% |
x |
84,400,000 |
|
= |
|
|
29,540,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total PPh terutang |
|
|
|
|
65,790,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Kredit Pajak: |
|
|
|
|
|
|
| PPh Pasal 21 |
|
|
|
|
|
26,500,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| PPh Yang Harus Dibayar Sendiri |
|
|
39,290,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| PPh yang Dibayar Sendiri (PPh Pasal 25) |
|
30,000,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| PPh Kurang Bayar |
|
|
|
|
|
9,290,000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun Pajak Berikutnya: |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1/12 |
x |
39,290,000 |
|
= |
|
|
|
3,274,167 |
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Contoh pengisian SPT Tahunan
Orang Pribadi ke dalam formulir SPT untuk artis.
Pengisian Lampiran IV formulir
SPT Tahunan Orang Pribadi tentang Harta dan Kewajiban ditinjau dari
segi resiko perpajakan. |