UU No 9
Tahun 1994
KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN |
SUSUNAN DALAM SATU NASKAH
UNDANG-UNDANG MENGENAI KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan :
1. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk
melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong
pajak tertentu. ( UU No 9 Tahun 1994 )
2. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam
bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk
badan lainnya. ( UU No 16 Tahun 2000 )
3. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk
apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan
barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan,
memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan
usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. ( UU
No 16 Tahun 2000 )
4. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha sebagaimana dimaksud
pada angka 3 yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, tidak termasuk Pengusaha
Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan,
kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha
Kena Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000)
5. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada
Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan
sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan
hak dan kewajiban perpajakannya. ( UU No 16 Tahun 2000 )
6. Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan
1 (satu) bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan paling lama 3 (tiga) bulan takwim. (
UU No 16 Tahun 2000 )
7. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun takwim kecuali
bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun
takwim. ( UU No 16 Tahun 2000 )
8. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu)
Tahun Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
9. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada
suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak atau dalam Bagian
Tahun Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
( UU No 6 Tahun 1983 )
10. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak
digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak,
objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban,
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. ( UU
No 16 Tahun 2000 )
11. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk
suatu Masa Pajak. (UU No 16 Tahun 2000)
12. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan
untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. ( UU No 16 Tahun
2000 )
13. Surat Setoran Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak
digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang
terutang ke kas negara melalui Kantor Pos dan atau bank badan usaha
milik Negara atau bank badan usaha milik Daerah atau tempat pembayaran
lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000
)
14. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar atau Surat
Ketetapan Pajak Nihil. ( UU No 16 Tahun 2000 )
15. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan
pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit
pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi
administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar. ( UU No 16 Tahun
2000 )
16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang
telah ditetapkan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
17. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan
pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah
kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak
seharusnya terutang. ( UU No 16 Tahun 2000 )
18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak
yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit
pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. ( UU
No 16 Tahun 2000 )
19. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan
pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.
( UU No 16 Tahun 2000 )
20. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak
dan biaya penagihan pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
21. Kredit pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak
Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak
yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
( UU No 16 Tahun 2000 )
22. Kredit pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang
dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang
terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam
tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak
yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan
yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
( UU No 16 Tahun 2000 )
23. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang
pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh
penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. ( UU No
9 Tahun 1994 )
24. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,
mengumpulkan, mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam
rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
25. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang
bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan
hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. ( UU No 9 Tahun 1994 )
26. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan
secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah
harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan
menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada
setiap Tahun Pajak berakhir. ( UU No 16 Tahun 2000 )
27. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya
termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya.
( UU No 9 Tahun 1994 )
28. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan
bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang
perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. ( UU No 9
Tahun 1994 )
29. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang
membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan atau kekeliruan
penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, Surat Tagihan
Pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan atau
Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan atau
Pembatalan Ketetapan Pajak yang tidak benar, atau Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000
)
30. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas
keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan
atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.
( UU No 9 Tahun 1994 )
31. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas
banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib
Pajak. ( UU No 9 Tahun 1994)
32. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan
kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu. (UU No 16 Tahun 2000)
BAB II
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK, SURAT PEMBERITAHUAN, DAN TATA CARA PEMBAYARAN
PAJAK
Pasal 2
(1)
Setiap Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat
Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau
tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok
Wajib Pajak. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(2)
Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, wajib
melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha,
dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha
Kena Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan :
a.
tempat pendaftaran dan atau tempat pelaporan usaha selain yang
ditetapkan dalam ayat (1) dan ayat (2); ( UU No 16 Tahun 2000 )
b.
tempat pendaftaran pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, di samping tempat
mendaftarkan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), bagi Wajib
Pajak orang pribadi pengusaha tertentu. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan
atau mengukuhkan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan, apabila Wajib
Pajak atau Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan atau ayat (2). ( UU No 16
Tahun 2000 )
(5)
Jangka waktu pendaftaran dan pelaporan serta tata cara pendaftaran
dan pengukuhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat
(3), dan ayat (4) termasuk penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan
atau pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur dengan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 3
(1)
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dalam bahasa
Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata
uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor
Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan.
( UU No 16 Tahun 2000)
(1a)
Bagi Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata
uang selain Rupiah, wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam
bahasa Indonesia dan mata uang selain Rupiah yang diizinkan, yang
pelaksanaannya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. ( UU No
16 Tahun 2000 )
(2)
Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (1a) harus
mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di tempat yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah :
a.
untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lambat 20 (dua puluh) hari
setelah akhir Masa Pajak; ( UU No 16 Tahun 2000 )
b.
untuk Surat Pemberitahuan Tahunan, paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah akhir Tahun Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memperpanjang
jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) huruf b untuk paling lama 6 (enam) bulan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diajukan secara
tertulis disertai Surat Pernyataan mengenai penghitungan sementara
pajak terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan bukti pelunasan kekurangan
pembayaran pajak yang terutang. ( UU No 6 Tahun 1983 )
(5a)
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan sesuai batas waktu
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) atau batas waktu perpanjangan
penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (4), diterbitkan Surat Teguran. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(6)
Bentuk dan isi Surat Pemberitahuan serta keterangan dan atau dokumen
yang harus dilampirkan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(7)
Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan apabila tidak ditandatangani
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau tidak sepenuhnya dilampiri
keterangan dan atau dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (6).
( UU No 16 Tahun 2000 )
(8)
Dikecualikan dari kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah Wajib Pajak Pajak Penghasilan tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 4
(1)
Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan
dengan benar, lengkap, jelas, dan menandatanganinya. ( UU No 6 Tahun
1983 )
(2)
Dalam hal Wajib Pajak adalah badan, Surat Pemberitahuan harus ditandatangani
oleh pengurus atau direksi. ( UU No 6 Tahun 1983 )
(3)
Dalam hal Surat Pemberitahuan diisi dan ditandatangani oleh orang
lain bukan Wajib Pajak, harus dilampiri surat kuasa khusus. ( UU
No 6 Tahun 1983 )
(4)
Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan oleh Wajib
Pajak yang wajib melakukan pembukuan harus dilengkapi dengan laporan
keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan-keterangan
lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena
Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan diatur
dengan Keputusan Menteri Keuangan ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 5
Untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan, Direktur Jenderal Pajak
dalam hal-hal tertentu dapat menentukan tempat lain bukan tempat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1). ( UU No 6 Tahun 1983
)
Pasal 6
(1)
Surat Pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh Wajib Pajak
ke kantor Direktorat Jenderal Pajak harus diberi tanggal penerimaan
oleh pejabat yang ditunjuk untuk itu, sedangkan untuk Surat Pemberitahuan
Tahunan harus diberikan juga bukti penerimaan. ( UU No 6 Tahun 1983
)
(2)
Penyampaian Surat Pemberitahuan dapat dikirimkan melalui Kantor
Pos secara tercatat atau dengan cara lain yang diatur dengan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Tanda bukti dan tanggal pengiriman untuk penyampaian Surat Pemberitahuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sepanjang Surat Pemberitahuan
tersebut telah lengkap dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal
penerimaan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 7
(1)
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu perpanjangan
penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (4), dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp50.000,00
(lima puluh ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa dan sebesar
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak dilakukan terhadap Wajib Pajak tertentu yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000
)
Pasal 8
(1)
Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan
yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam
jangka waktu 2 (dua) tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak, Bagian
Tahun Pajak atau Tahun Pajak, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak
belum melakukan tindakan pemeriksaan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, maka kepadanya dikenakan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan
atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian
Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran karena
pembetulan Surat Pemberitahuan itu. ( UU No 6 Tahun 1983 )
(3)
Sekalipun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi sepanjang
belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran
yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38,
terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan
dilakukan penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri
mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai
pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang
beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 2 (dua) kali jumlah
pajak yang kurang dibayar. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Sekalipun jangka waktu pembetulan Surat Pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) telah berakhir, dengan syarat Direktur Jenderal
Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan
kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang
ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan,
yang mengakibatkan :
a. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar; atau
b. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil; atau
c. jumlah harta menjadi lebih besar; atau
d. jumlah modal menjadi lebih besar. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan
ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar
50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, harus dilunasi
sendiri oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(6)
Sekalipun jangka waktu pembetulan Surat Pemberitahuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) telah berakhir, dengan syarat Direktur Jenderal
Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan, Wajib Pajak dapat membetulkan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang telah disampaikan,
dalam hal Wajib Pajak menerima Keputusan Keberatan atau Putusan
Banding mengenai surat ketetapan pajak tahun pajak sebelumnya, yang
menyatakan rugi fiskal yang berbeda dari ketetapan pajak yang diajukan
keberatan atau Keputusan Keberatan yang diajukan banding, dalam
jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima Keputusan Keberatan
atau Putusan Banding tersebut. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 9
(1)
Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan
penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak
bagi masing-masing jenis pajak, paling lambat 15 (lima belas) hari
setelah saat terutangnya pajak atau Masa Pajak berakhir. ( UU No
16 Tahun 2000 )
(2)
Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan
Tahunan harus dibayar lunas paling lambat tanggal dua puluh lima
bulan ketiga setelah Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak berakhir,
sebelum Surat Pemberitahuan itu disampaikan. ( UU No 16 Tahun 2000
)
(2a)
Apabila pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), atau ayat (2) dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran
atau penyetoran pajak, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% (dua persen) sebulan yang dihitung dari jatuh tempo pembayaran
sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung
penuh 1 (satu) bulan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah
pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(4)
Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan
persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk
kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) paling
lama 12 (dua belas) bulan, yang pelaksanaannya ditetapkan dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 10
(1)
Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang di
kas negara melalui Kantor Pos dan atau bank badan usaha milik Negara
atau bank badan usaha milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Tata cara pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporannya serta
tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak diatur dengan
Keputusan Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 11
(1)
Atas permohonan Wajib Pajak, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17, Pasal 17B, atau Pasal 17C dikembalikan,
namun apabila ternyata Wajib Pajak mempunyai utang pajak, langsung
diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak tersebut.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sehubungan diterbitkannya
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17, atau sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B, atau sejak diterbitkannya
Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17C. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah
jangka waktu 1 (satu) bulan, Pemerintah memberikan bunga sebesar
2% (dua persen) sebulan atas kelambatan pembayaran kelebihan pembayaran
pajak, dihitung dari saat berlakunya batas waktu sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) sampai dengan saat dilakukan pembayaran kelebihan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000
)
BAB III
PENETAPAN DAN KETETAPAN PAJAK
Pasal 12
(1)
Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak
menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak ( UU No 6 Tahun
1983 )
(2)
Jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan yang disampaikan
oleh Wajib Pajak adalah jumlah pajak yang terutang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti bahwa jumlah
pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) tidak benar, maka Direktur Jenderal Pajak menetapkan
jumlah pajak terutang yang semestinya. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 13 ( UU No 9 Tahun 1994 )
(1)
Dalam jangka waktu sepuluh tahun sesudah saat terutangnya pajak,
atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak,
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang dalam hal-hal sebagai berikut :
a. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain
pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar;
b. apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah ditegur
secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan
dalam Surat Teguran;
c. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan mengenai Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ternyata tidak seharusnya
dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya dikenakan
tarif 0 % (nol persen);
d. apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan
Pasal 29 tidak dipenuhi, sehingga tidak dapat diketahui besarnya
pajak yang terutang.
(2)
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditambah
dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen)
sebulan untuk selama-lamanya dua puluh empat bulan, dihitung sejak
saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun
Pajak atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar.
(3)
Jumlah pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d ditambah dengan
sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar :
a. 50 % (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak
atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak;
b. 100 % (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak
atau kurang dipotong, tidak atau kurang dipungut, tidak atau kurang
disetorkan, dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang
disetorkan;
c. 100 % (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang tidak atau kurang
dibayar.
(4)
Besarnya pajak yang terutang yang diberitahukan oleh Wajib Pajak
dalam Surat Pemberitahuan menjadi pasti menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku, apabila dalam jangka
waktu sepuluh tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya
Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, tidak diterbitkan
surat ketetapan pajak.
(5)
Apabila jangka waktu sepuluh tahun sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tetap dapat
diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48
% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau
kurang dibayar, dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu sepuluh
tahun tersebut dipidana, karena melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan berdasarkan putusan Pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
Pasal 14
(1)
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak apabila
:
a. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang
dibayar; ( UU No 9 Tahun 1994 )
b. Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan
pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung;
( UU No 16 Tahun 2000 )
c. Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda
dan atau bunga; ( UU No 16 Tahun 2000 )
d. Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang
Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya tetapi tidak melaporkan
kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
( UU No 16 Tahun 2000 )
e. Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak tetapi membuat Faktur Pajak; ( UU No 16 Tahun 2000 )
f. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak tidak membuat atau membuat Faktur Pajak tetapi tidak tepat
waktu atau tidak mengisi selengkapnya Faktur Pajak. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(2)
Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai
kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak. ( UU No 16
Tahun 2000 )
(3)
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah
dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak
saat terutangnya pajak atau Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak
sampai dengan diterbitkannya Surat Tagihan Pajak. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(4)
Terhadap Pengusaha atau Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf d, huruf e, dan huruf f, masing-masing dikenakan
sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar
Pengenaan Pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 15
(1)
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sesudah
saat pajak terutang, berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak
atau Tahun Pajak, apabila ditemukan data baru dan atau data yang
semula belum terungkap yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak
yang terutang. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, ditambah dengan sanksi administrasi berupa
kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak
tersebut. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(3)
Kenaikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dikenakan apabila
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan itu diterbitkan berdasarkan
keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri, dengan
syarat Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Apabila jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang
tidak atau kurang dibayar, dalam hal Wajib Pajak
setelah jangka waktu 10 (sepuluh) tahun tersebut dipidana karena
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan
Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. ( UU No 16
Tahun 2000 )
Pasal 16 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib
Pajak dapat membetulkan surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak,
Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan
Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan atau Pembatalan
Ketetapan Pajak yang tidak benar, atau Surat Keputusan Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak, yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan
tulis, kesalahan hitung, dan atau kekeliruan penerapan ketentuan
tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. ( UU No
16 Tahun 2000 )
(2)
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan
sejak tanggal permohonan diterima, harus memberi keputusan atas
permohonan pembetulan yang diajukan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) telah
lewat, Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, maka
permohonan pembetulan yang diajukan tersebut dianggap diterima.
( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 17 ( UU No 9 Tahun 1994 )
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila jumlah kredit pajak atau
jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang
terutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya
terutang
Pasal 17 A ( UU No 16 Tahun 2000 )
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan, menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak Nihil apabila jumlah kredit pajak atau jumlah
pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang, atau
pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak atau tidak ada pembayaran
pajak.
Pasal 17B ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak selain permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C harus menerbitkan surat ketetapan
pajak paling lambat 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan
diterima, kecuali untuk kegiatan tertentu ditetapkan lain dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
(2)
Apabila setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar harus diterbitkan dalam waktu
paling lambat 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir.
(3)
Apabila Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar terlambat diterbitkan
dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka kepada
Wajib Pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan
dihitung sejak berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) sampai dengan saat diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih
Bayar.
Pasal 17C ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak dengan
kriteria tertentu, menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima
untuk Pajak Penghasilan dan paling lambat 1 (satu) bulan sejak permohonan
diterima untuk Pajak Pertambahan Nilai.
(2)
Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan.
(3)
Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
(4)
Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan terhadap Wajib
Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dan menerbitkan surat
ketetapan pajak, setelah melakukan pengembalian pendahuluan kelebihan
pajak.
(5)
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (4), Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, jumlah kekurangan pajak ditambah dengan sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan
pembayaran pajak.
BAB IV
PENAGIHAN PAJAK
Pasal 18
(1)
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah
pajak yang harus dibayar bertambah, merupakan dasar penagihan pajak.
( UU No 9 Tahun 1994 )
(2)
dihapus. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 19 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Apabila atas pajak yang terutang menurut Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan,
dan tambahan jumlah pajak yang harus dibayar berdasarkan Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, atau Putusan Banding, pada
saat jatuh tempo pembayaran tidak atau kurang dibayar, maka atas
jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu, dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk
seluruh masa, yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan
tanggal pembayaran atau tanggal diterbitkannya Surat Tagihan Pajak,
dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
(2)
Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran
pajak, juga dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan, dan
bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
(3)
Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat Pemberitahuan
dan ternyata penghitungan sementara pajak yang terutang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya
terutang, maka atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dikenakan
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan yang dihitung dari saat berakhirnya
kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b sampai dengan tanggal dibayarnya
kekurangan pembayaran tersebut, dan bagian dari bulan dihitung penuh
1 (satu) bulan.
Pasal 20 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Jumlah pajak yang terutang berdasarkan Surat Tagihan Pajak, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar
bertambah, yang tidak dibayar oleh Penanggung Pajak sesuai dengan
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3), ditagih
dengan Surat Paksa.
(2)
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
penagihan seketika dan sekaligus dilakukan dalam hal :
a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
atau berniat untuk itu;
b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki
atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan
perusahaan, atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia;
c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan
badan usahanya, atau menggabungkan usahanya, atau memekarkan usahanya,
atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya,
atau melakukan perubahan bentuk lainnya;
d. badan usaha akan dibubarkan oleh Negara; atau
e. terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak
ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan.
(3)
Penagihan pajak dengan Surat Paksa dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 21
(1)
Negara mempunyai hak mendahulu untuk tagihan pajak atas barang-barang
milik Penanggung Pajak. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(2)
Ketentuan tentang hak mendahulu sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), meliputi pokok pajak, sanksi administrasi berupa bunga, denda,
kenaikan, dan biaya penagihan pajak. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu
lainnya, kecuali terhadap :
a. biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman
untuk melelang suatu barang bergerak dan atau barang tidak bergerak;
( UU No 16 Tahun 2000 )
b. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang
dimaksud; ( UU No 16 Tahun 2000 )
c. biaya perkara, yang semata-mata disebabkan pelelangan dan
penyelesaian suatu warisan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Hak mendahulu itu hilang setelah lampau waktu 2 (dua) tahun sejak
tanggal diterbitkan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan
Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, kecuali apabila dalam
jangka waktu 2 (dua) tahun tersebut, Surat Paksa untuk membayar
itu diberitahukan secara resmi, atau diberikan penundaan pembayaran.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi,
jangka waktu 2 (dua) tahun sebagaimana dimaksud dalam ayat (4),
dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa, atau dalam hal
diberikan penundaan pembayaran jangka waktu 2 (dua) tahun tersebut
ditambah dengan jangka waktu penundaan pembayaran.( UU No 16 Tahun
2000 )
Pasal 22
(1)
Hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan,
dan biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah lampau waktu 10 (sepuluh)
tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak yang bersangkutan. (
UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Daluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tertangguh
apabila:
a. diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa; ( UU No 9 Tahun
1994 )
b. ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung
maupun tidak langsung; ( UU No 9 Tahun 1994 )
c. diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4). ( UU
No 16 Tahun 2000 )
Pasal 23 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
dihapus.
(2)
Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap :
a. Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan,
atau Pengumuman Lelang;
b. Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan,
selain yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26;
c. Keputusan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
yang berkaitan dengan Surat Tagihan Pajak;
d. Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 yang berkaitan
dengan Surat Tagihan Pajak;hanya dapat diajukan kepada badan peradilan
pajak
(3)
dihapus
Pasal 24 ( UU No 16 Tahun 2000 )
Tata cara penghapusan piutang pajak dan penetapan besarnya penghapusan
diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.
BAB V
KEBERATAN DAN BANDING
Pasal 25
(1)
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal
Pajak atas suatu : ( UU No 9 Tahun 1994 )
a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;
c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar;
d. Surat Ketetapan Pajak Nihil;
e. Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
(2)
Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan
mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong
atau dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak
dengan disertai alasan-alasan yang jelas. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(3)
Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak
tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa
jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak dianggap sebagai surat
keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan. ( UU No 16 Tahun 2000
)
(5)
Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh pejabat Direktorat
Jenderal Pajak yang ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman surat
keberatan melalui pos tercatat menjadi tanda bukti penerimaan surat
keberatan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(6)
Apabila diminta oleh Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan keberatan,
Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis
hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak, penghitungan rugi, pemotongan
atau pemungutan pajak. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(7)
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan
pelaksanaan penagihan pajak. ( UU No 9 Tahun 1994 )
Pasal 26 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama dua belas
bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima, harus memberi keputusan
atas keberatan yang diajukan.
Pasal 26 ( UU No 6 Tahun 1983 )
(1)
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama dua belas
bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima, harus memberi keputusan
atas keberatan yang diajukan.
(2)
Sebelum surat keputusan diterbitkan, Wajib Pajak dapat menyampaikan
alasan tambahan atau penjelasan tertulis.
(3)
Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa menerima
seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya jumlah
pajak yang terhutang.
(4)
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas ketetapan pajak
yang ditentukan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b dan huruf d, Wajib
Pajak yang bersangkutan harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan
pajak tersebut.
(5)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah
lewat dan Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan,
maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima.
Pasal 27
(1)
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan
peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 9 Tahun 1994)
(2)
Putusan badan peradilan pajak bukan merupakan keputusan tata usaha
negara. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara
tertulis dalam bahasa Indonesia, dengan alasan yang jelas dalam
waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima, dilampiri salinan
dari surat keputusan tersebut. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
dihapus. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak
dan pelaksanaan penagihan pajak. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(6)
Badan peradilan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan Pasal
23 ayat (2) diatur dengan undang-undang. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 27A ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding diterima sebagian
atau seluruhnya, sepanjang utang pajak sebagaimana dimaksud dalam
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan atau Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan telah dibayar yang menyebabkan kelebihan pembayaran
pajak, maka kelebihan pembayaran dikembalikan dengan ditambah imbalan
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua
puluh empat) bulan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Keputusan
Keberatan atau Putusan Banding.
(2)
Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) juga diberikan
atas pembayaran lebih sanksi administrasi berupa denda sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan atau bunga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1) berdasarkan Keputusan Pengurangan atau Penghapusan
Sanksi Administrasi, sebagai akibat diterbitkan Keputusan Keberatan
atau Putusan Banding yang menerima sebagian atau seluruh permohonan
Wajib Pajak.
(3)
Tata cara penghitungan pengembalian kelebihan bayar dan pemberian
imbalan bunga diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.
BAB VI
PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN
Pasal 28
(1)
Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia, wajib menyelenggarakan
pembukuan. ( UU No 9 Tahun 1994 )
(2)
Dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tetapi wajib melakukan pencatatan adalah
Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi yang
tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. ( UU No 16
Tahun 2000 )
(3)
Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan
memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan
usaha yang sebenarnya. ( UU No 6 Tahun 1983 )
(4)
Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan
menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan
disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan
oleh Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(5)
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel
akrual atau stelsel kas. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(6)
Perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku, harus
mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(7)
Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian,
sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. ( UU No 16
Tahun 2000 )
(8)
Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain
Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin
Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(9)
Pencatatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdiri dari data
yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan
bruto dan atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek
pajak dan atau yang dikenakan pajak yang bersifat final. ( UU No
16 Tahun 2000 )
(10)
Dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan dan melakukan
pencatatan adalah Wajib Pajak orang pribadi yang tidak wajib menyampaikan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(11)
Buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain wajib disimpan selama
10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau di
tempat tinggal bagi Wajib Pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan
bagi Wajib Pajak badan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(12)
Bentuk dan tata cara pencatatan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2) diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. ( UU No 16
Tahun 2000 )
Pasal 29
(1)
Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam
rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
( UU No 9 Tahun 1994 )
(2)
Untuk keperluan pemeriksaan petugas pemeriksa harus memiliki tanda
pengenal pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan
serta memperlihatkannya kepada Wajib Pajak yang diperiksa. ( UU
No 16 Tahun 2000 )
(3)
Wajib Pajak yang diperiksa wajib : ( UU No 9 Tahun 1994 )
a. memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan
dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas
Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang
yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan;
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(4)
Apabila dalam mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen
serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban
untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan
oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1). ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 30 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan penyegelan tempat atau
ruangan tertentu, bila Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) huruf b.
Pasal 31 ( UU No 16 Tahun 2000 )
Tata cara pemeriksaan diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.
BAB VII
KETENTUAN KHUSUS
Pasal 32
(1)
Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili, dalam
hal : ( UU No 9 Tahun 1994 )
a. badan oleh pengurus;
b. badan dalam pembubaran atau pailit oleh orang atau badan
yang dibebani untuk melakukan pemberesan;
c. suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli
warisnya, pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya;
d. anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan
oleh wali atau pengampunya.
(2)
Wakil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggungjawab secara
pribadi dan atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang,
kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur Jenderal
Pajak, bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin
untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(3)
Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat
kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. ( UU No 9 Tahun
1994 )
(3a)
Kuasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. ( UU No 16 Tahun
2000 )
(4)
Termasuk dalam pengertian pengurus sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) huruf a adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut
menentukan kebijaksanaan dan atau mengambil keputusan dalam menjalankan
perusahaan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 33 ( UU No 16 Tahun 2000 )
Pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya
bertanggungjawab secara renteng atas pembayaran pajak, sepanjang
tidak dapat menunjukkan bukti bahwa pajak telah dibayar
Pasal 34
(1)
Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala
sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak
dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(2)
Larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku juga terhadap
tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu
dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
( UU No 16 Tahun 2000 )
(2a)
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan ayat (2) adalah : ( UU No 16 Tahun 2000 )
a. Pejabat dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau
saksi ahli dalam sidang pengadilan.
b. Pejabat dan tenaga ahli yang memberikan keterangan kepada
pihak lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
(3)
Untuk kepentingan negara, Menteri Keuangan berwenang memberi izin
tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
tenaga-tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) supaya memberikan
keterangan, memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib
Pajak kepada pihak yang ditunjuknya. ( UU No 16 Tahun 2000 )
(4)
Untuk kepentingan pemeriksaan di Pengadilan dalam perkara pidana
atau perdata atas permintaan Hakim sesuai dengan Hukum Acara Pidana
dan Hukum Acara Perdata, Menteri Keuangan dapat memberi izin tertulis
untuk meminta kepada pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), bukti tertulis
dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya. ( UU No 16 Tahun 2000
)
(5)
Permintaan Hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), harus menyebutkan
nama tersangka atau nama tergugat, keterangan-keterangan yang diminta
serta kaitan antara perkara pidana atau perdata yang bersangkutan
dengan keterangan yang diminta tersebut. ( UU No 9 Tahun 1994 )
Pasal 35 ( UU No 9 Tahun 1994 )
(1)
Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan diperlukan keterangan, atau bukti dari bank, akuntan
publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan pihak
ketiga lainnya, yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang
diperiksa atau disidik, atas permintaan tertulis dari Direktur Jenderal
Pajak, pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti
yang diminta.
(2)
Dalam hal pihak-pihak sebagaimana pada ayat (1) terikat oleh kewajiban
merahasiakan, untuk keperluan pemeriksaan atau penyidikan pajak,
kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan, kecuali untuk bank kewajiban
merahasiakan ditiadakan atas perintah tertulis dari Menteri Keuangan.
Pasal 36
(1)
Direktur Jenderal Pajak dapat : ( UU No 6 Tahun 1983 )
a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa
bunga, denda, dan kenaikan yang terutang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan dalam hal sanksi tersebut dikenakan
karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya;
b. mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak
benar.
(2)
Tata cara pengurangan, penghapusan, atau pembatalan utang pajak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dengan Keputusan Menteri
Keuangan.( UU No 16 Tahun 2000 )
Pasal 36A ( UU No 16 Tahun 2000 )
Apabila petugas pajak dalam menghitung atau menetapkan pajak tidak
sesuai dengan Undang-undang perpajakan yang berlaku sehingga merugikan
negara, maka petugas pajak yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 37 ( UU No 16 Tahun 2000 )
Perubahan besarnya imbalan bunga dan sanksi administrasi berupa
bunga, denda, dan kenaikan, diatur dengan Peraturan Pemerintah
BAB VIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 38 ( UU No 16 Tahun 2000 )
Setiap orang yang karena kealpaannya :
a. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
b. menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar
atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak
benar, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara,
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau
denda paling tinggi 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar.
Pasal 39 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Setiap orang yang dengan sengaja :
a. tidak mendaftarkan diri, atau menyalahgunakan atau menggunakan
tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2; atau
b. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau
c. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan atau keterangan yang
isinya tidak benar atau tidak lengkap; atau
d. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29; atau
e. memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain
yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar; atau
f. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak
memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen
lainnya; atau
g. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut,sehingga
dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi
4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
(2)
Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan 2 (dua) apabila
seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum
lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana
penjara yang dijatuhkan.
(3)
Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak
atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf a, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan atau
keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf c dalam rangka mengajukan permohonan
restitusi atau melakukan kompensasi pajak, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat)
kali jumlah restitusi yang dimohon dan atau kompensasi yang dilakukan
oleh Wajib Pajak.
Pasal 40 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut setelah
lampau waktu sepuluh tahun sejak saat terhutangnya pajak, berakhirnya
Masa Pajak, berakhirnya Bagian Tahun Pajak, atau berakhirnya Tahun
Pajak yang bersangkutan
Pasal 41 ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan
hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 4.000.000,00
(empat juta rupiah).
(2)
Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang
yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34, dipidana dengan pidana penjara paling lama
2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh
juta rupiah).
(3)
Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya
dilanggar.
Pasal 41A ( UU No 16 Tahun 2000 )
Setiap orang yang menurut Pasal 35 Undang-undang ini wajib memberi
keterangan atau bukti yang diminta tetapi dengan sengaja tidak memberi
keterangan atau bukti, atau memberi keterangan atau bukti yang tidak
benar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).#
Pasal 41B ( UU No 16 Tahun 2000 )
Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000,00
(sepuluh juta rupiah).#
Pasal 42 dihapus. ( UU No 9 Tahun 1994 )
Pasal 43 ( UU No 9 Tahun 1994 )
(1)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39, berlaku
juga bagi wakil, kuasa, atau pegawai dari Wajib Pajak, yang menyeluruh
melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang
membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41A dan Pasal 41B berlaku
juga bagi yang menyuruh melakukan, yang menganjurkan, atau yang
membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.
BAB IX
P E N Y I D I K A N
Pasal 44 ( UU No 16 Tahun 2000 )
1)
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat
Jenderal Pajak diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, sebagaimana dimaksud
dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.
2)
Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan
atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan
agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan
jelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai
orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau
badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen
lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan
terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;
g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan
memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana
dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana
di bidang perpajakan;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan menurut hukum yang bertanggungjawab.
(3)
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut
Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia,
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara
Pidana yang berlaku.
Pasal 44A ( UU No 9 Tahun 1994 )
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) menghentikan
penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) huruf j
dalam hal tidak terdapat cukup bukti, atau peristiwa tersebut bukan
merupakan tindak pidana di bidang perpajakan, atau penyidikan dihentikan
karena peristiwanya telah daluwarsa, atau tersangka meninggal dunia.
Pasal 44B ( UU No 16 Tahun 2000 )
(1)
Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri Keuangan,
Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan.
(2)
Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), hanya dilakukan setelah Wajib Pajak melunasi
pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya
dikembalikan, ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar
empat kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau yang
tidak seharusnya dikembalikan.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 45 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Terhadap pajak-pajak yang terhutang pada suatu saat, untuk Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak yang berakhir sebelum
saat berlakunya undang-undang ini, tetap berlaku ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang lama, sampai dengan tanggal 31
Desember 1988.
Pasal 46 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Dengan berlakunya undang-undang ini semua peraturan pelaksanaan
di bidang perpajakan yang lama tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan undang-undang ini.
Pasal 47 dihapus. ( UU No 9 Tahun 1994 )
Pasal 47A ( UU No 16 Tahun 2000 )
Terhadap semua hak dan kewajiban perpajakan yang belum diselesaikan,
diberlakukan ketentuan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 48 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang ini, diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 49 ( UU No 6 Tahun 1983 )
Ketentuan dalam undang-undang ini berlaku pula bagi undang-undang
perpajakan lainnya kecuali apabila ditentukan lain.
www.pajakpribadi.com |